Penerapan Model Guided Discoverry dalam Pembelajaran IPA

0
194
Pose

Proses  pembelajaran  merupakan jantung dari keseluruhan proses pendidikan formal, karena melalui sebuah proses pembelajaran terjadi transfer ilmu dari guru ke siswa yang berisi berbagai tujuan pendidikan. Tentunya kualitas pendidikan  tidak terlepas dari peran utama guru yang dituntut untuk mewujudkan hasil belajar yang baik dan membanggakan   untuk  siswa-siswanya.   Salah satu cara yang tepat yang dapat dilakukan oleh guru yaitu memilih model pembelajaran yang sesuai  dengan  kondisi  kelas,  tujuan pembelajaran maupun materi yang hendak diajarkan.

Beragam  model  pembelajaran yang dapat digunakan untuk menghasilkan proses belajar mengajar yang lebih berkualitas, tentunya dengan  pemilihan  model  pembelajaran   yang tidak sembarangan. Namun yang menjadi permasalahan adalah dibeberapa sekolah umumnya masih menggunakan model pembelajaran   yang  kurang  tepat  khususnya pada pembelajaran fisika yang tampaknya lebih banyak   dirancang   dengan   metode   ceramah atau model pembelajaran tradisional. Dengan metode ceramah guru terkesan monoton dalam penyampaian  materi dan kurang mendapatkan respon yang positif dari siswa.

Pembelajaran  IPA  harus  menekankan pada penguasaan kompetensi melalui serangkaian proses ilmiah. Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa pembelajaran IPA bukan hanya menyampaikan informasi secara lisan (ceramah) ataupun tertulis (catatan), namun dituntut adanya keaktifan siswa sehingga dalam pembelajaran siswa dituntut dapat membuktikan sendiri konsep-konsep IPA melalui keterampilan proses dengan berbagai metode pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran model guided discovery, siswa diarahkan untuk menemukan konsep-konsep. Pada proses pembelajaran ini, siswa didorong untuk berpikir dan menganalisis sendiri, sehingga dapat menemukan konsep berdasarkan bahan atau data yang telah disediakan. Pada pembelajaran ini, siswa diarahkan untuk terlibat aktif di dalam proses belajar di bawah bimbingan guru untuk menemukan konsep-konsep.

Pembelajaran model guided discovery melibatkan keaktifan siswa dalam memperoleh keterampilan intelektual, sikap, dan keterampilan psikomotorik sehingga cocok   untuk   diterapkan   pada   pembelajaran IPA. Pembelajaran   IPA dengan menggunakan model pembelajaran guided discovery akan membuat kegiatan belajar mengajar menjadi lebih aktif, siswa akan  mencari dan menemukan dengan teknik pemecahan masalah sehingga menumbuhkan motivasi serta partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran IPA.

Beberapa hasil penelitian yang mengkaji penerapan model guided discovery adalah Penelitian Vera, J. dkk, (2012), yang mengkaji pengaruh penggunaan metode pembelajaran Guided Discovery  dalam meningkatkan aktivitas dan penguasaan materi oleh siswa, melaporkan bahwa aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan, yaitu mengajukan pendapat (84,72), mengajukan  pertanyaan (75,00),  dan menjawab pertanyaan (77,78). Penguasaan materi siswa juga mengalami peningkatan, dengan rata-rata nilai N-gain sebesar 43,96. Dengan demikian, signifikan dalam meningkatkan aktivitas dan penguasaan materi oleh siswa pada materi pokok ciri-ciri makhluk hidup.

Hasil penelitian Akinyemi, O (2010) menyebutkan bahwa guided discovery lebih efektif dalam meningkatkan hasil  belajar siswa diikuti dengan metode demonstrasi, sedangkan metode tradisional kurang efektif karena siswa lebih pasif. Dari hasil penelitian dapat digambarkan bahwa dengan menggunakan guided discovery pembelajaran lebih efektif.

Model merupakan tiruan atau konsepsi dari benda atau keadaan yang sesungguhnya, sebagai gambaran atau contoh yang bermanfaat dalam pemecahan masalah. Jika siswa belajar menemukan sesuatu dikatakan ia belajar melalui penemuan. Bila guru mengajar siswa tidak dengan memberitahu tetapi memberikan kesempatan atau berdialog dengan siswa agar ia menemukan sendiri, cara guru mengajar demikian disebut model Guided Discovery.

Model penemuan merupakan komponen dari suatu bagian praktik pendidikan yang seringkali diterjemahkan sebagai mengajar heuristik, yakni suatu jenis mengajar yang meliputi model-model yang dirancang untuk meningkatkan rentangan keaktifan siswa yang lebih besar, berorientasi kepada proses, mengarahkan pada diri sendiri, mencari sendiri, dan refleksi yang sering muncul sebagai kegiatan belajar.  Roestiyah, (2001:145) mengemukakan   bahwa   guided discovery adalah   proses mental  di mana  siswa mengasimilasikan  sesuatu  konsep  atau sesuatu prinsip. Proses mental tersebut misalnya, mengamati, menggolong- golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan   dan   sebagainya.

Jerome Bruner dalam Sardiman, (2003:138), penemuan adalah suatu proses, suatu jalan/cara dalam mendekati permasalahan bukannya suatu produk atau item pengetahuan tertentu. Proses penemuan dapat menjadi kemampuan umum melalui latihan pemecahan masalah dan praktek membentuk dan menguji hipotesis. Di dalam pandangan Bruner, belajar  dengan  penemuan  adalah  belajar  untuk  menemukan,  di mana  seorang  siswa dihadapkan dengan  suatu  masalah  atau  situasi  yang tampaknya  ganjil  sehingga siswa dapat  mencari  jalan pemecahan.

Menurut Sund, dalam Suryosubroto, (2006: 193), guided discovery merupakan bagian dari inquiri, atau inquiri merupakan perluasan proses discovery yang digunakan lebih mendalam. Guided discovery adalah proses mental di mana siswa mengasimilasi suatu konsep atau suatu prinsip. Proses mental tersebut misalnya mengamati, menggolongkan, membuat simpulan dan sebagainya.  Bruner  menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, sehingga belajar dengan penemuan akan memberikan hasil yang paling baik. Lebih lanjut Bruner mengatakan bahwa belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan.

Berbeda dengan Bruner, Ausubel pendapat bahwa belajar bermakna tidak hanya terjadi melalui penemuan. Belajar akan bermakna jika informasi yang akan dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa sehingga siswa dapat mengaitkan informasi baru dengan struktur kognitif yang dimilikinya. Ausubel menambahkan bahwa metode penemuan aplikasinya terbatas dan membuang-buang waktu, karena itu perlu ada guided discovery.

Selanjutnya, Herman, H (2004:11), mendefinisikan model penemuan sebagai prosedur pembelajaran yang mempunyai tekanan siswa berlatih cakap mencapai tujuan dan siswa aktif mengadakan percobaan atau penemuan sendiri sebelum membuat kesimpulan dari yang dipelajari. Dengan demikian, materi yang akan dipelajari siswa tidak disajikan dalam bentuk final. Siswa harus melakukan aktivitas mental yang mungkin melibatkan aktivitas fisik dalam upaya memperoleh pemahaman pada materi tertentu.

Selama proses penemuan, siswa memanipulasi, membuat struktur, dan mentransfer informasi sehingga menemukan informasi baru yang berupa hipotesis, atau kebenaran Ilmu Pengetahuan Alam. Sehubungan dengan model guided discovery, Herman, H (2004:5) menegaskan bahwa siswa memerlukan bimbingan setapak demi setapak untuk mengembangkan kemampuan memahami pengetahuan baru.

Bimbingan dapat dilakukan melalui instruksi lisan atau tulisan untuk memperlancar belajar suatu konsep atau hubungan-hubungan IPA. Dengan demikian, pembelajaran guided discovery melibatkan aktivitas guru dan siswa secara maksimal. Siswa aktif melakukan penemuan dan guru aktif memberi bimbingan secara bertahap dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan siswa melakukan proses penemuan.

Model pembelajaran guided discovery merupakan model pembelajaran yang berangkat dari suatu pandangan bahwa peserta didik sebagai subyek di samping sebagai obyek pembelajaran. Mereka memiliki kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Proses pembelajaran harus dipandang sebagai suatu stimulus atau rangsangan yang dapat menantang peserta didik untuk merasa terlibat atau berpartisipasi dalam aktivitas pembelajaran.

Peranan guru hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing atau pemimpin pembelajaran, sehingga diharapkan peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan masalah atas bimbingan guru. Model pembelajaran guided discovery dapat pula diartikan sebagai suatu prosedur mengajar yang mengutamakan pengajaran perseorangan (individu), manipulasi obyek dan lain-lain, sebelum sampai kepada generalisasi. Dalam menerapkan model pembelajaran guided discovery, guru terlebih dahulu harus mampu merumuskan lagkah-langkah pembelajaran sesuai dengan tingkat  perkembangan  kompetensi  dasar  yang  dimiliki  siswa.

Langkah-langkah Pembelajaran Model Guided Discovery

Selanjutnya, langkah-langkah pembelajaran model Guided Discovery adalah sebagai berikut :

No Tahapan-Tahapan Kegiatan Guru
1 Pemberian rangsangan

(Stimulasi)

Menyampaikan tujuan pembelajaran, memotivasi siswa dengan mengajukan beberapa pertanyaan, anjuran membaca buku untuk menghadap siswa  pada kondisi yang mendorong eksplorasi melalui eksperimen. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menyusun hipotesis
2 Identifikasi masalah Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah eksperimen sesuai lks, dan meminta perwakilan kelompok untuk mengambil alat dan bahan percobaan. Membimbing siswa untuk menemukan informasi melalui percobaan.
3 Pengumpulan data Memberi kesempatan kepada masing-masing kelompok untuk berdiskusi, mencatat serta menjawab pertanyaan yang ada dalam lks. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya  yang relevan untuk membuktikan kebenaran hipotesis.
4 Pengolahan data Memberi kesempatan kepada siswa/kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi tentang percobaan yang telah dilakukan. Memberi kesempatan kepada kelompok lain untuk menanggapi hasil diskusi yang telah dipresentasikan.
5 Verifikasi Guru meluruskan konsep yang sudah didapat siswa melalui eksperimen yang telah dilakukan.
6 Generalisasi

(menarik kesimpulan)

Guru membimbing siswa menyimpulkan pelajaran yang telah dipelajari. Guru memberi tugas rumah kepada siswa dan menutup kegiatan pembelajaran dengan berdoa.

Sumber : Muhibbin, Syah (2004:244)

Kelebihan Penerapan Model Guided Discovery

Ada beberapa kelebihan penerapan model guided discovery dalam peningkatan hasil belajar siswa terutama dalam bidang studi IPA yaitu sebagai berikut:

  1. Pembelajaran berpusat pada siswa

Model pembelajaran penemuan merupakan model pembelajaran yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dalam menemukan konsep, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip.

  1. Mendorong kemandirian dan inisiatif belajar pada siswa

Penggunaan model pembelajaran penemuan menghargai gagasan-gagasan atau pemikiran siswa serta mendorong siswa berpikir mandiri, berarti guru membantu siswa menemukan identitas intelektual mereka. Model pembelajaran ini telah mengembangkan tanggung jawab terhadap proses belajar mereka sendiri serta menjadi pemecah masalah.

  1. Mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif

Model Guide Discovery sesuai dengan karakteristik IPA yakni melatih berpikir logis dan sistematis melalui kegiatan guided discovery yang di dalam kegiatan pembelajarannya siswa melakukan percobaan sendiri agar konsep-konsep tersebut bisa ditemukan. Siswa mengalami sendiri dan terlibat secara aktif dalam pembelajaran, hal tersebut akan membuat siswa lebih mengingat dan susah lupa tentang materi yang telah diajarkan berdasarkan hasil penemuannya.

  1. Memberi pengalaman langsung kepada siswa

Penerapan model guided discovery diprediksi dapat meningkatkan pembelajaran IPA akan berpengaruh pula pada hasil  pembelajaran peserta didik yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Karena pada  penemuan, menekankan agar peserta didik terlibat langsung dalam pembelajaran sehingga peserta didik dapat mengalami dan menemukan sendiri konsep-konsep yang harus ia kuasai.

Ada beberapa kelemahan penerapan model guided discovery dalam peningkatan hasil belajar siswa dalam bidang studi IPA. Dalam Pembelajaran guided discovery tugas guru cenderung menjadi fasilitator. Tugas ini tidaklah mudah, lebih-lebih kalau menghadapi kelas besar atau siswa yang lambat atau sebaliknya amat cerdas. Karena itu sebelum melaksanakan metode pembelajaran dengan penemuan ini guru perlu benar-benar mempersiapkan diri dengan baik. Persiapan ini dilakukan baik dalam tiap hal pemahaman konsep-konsep yang akan diajarkan maupun memikirkan kemungkinan yang akan terjadi di kelas sewaktu pembelajaran tersebut berjalan. Dengan kata lain, guru perlu mempersiapkan pembelajaran dengan cermat.

Selain memiliki beberapa keuntungan, metode discovery (penemuan) juga memiliki beberapa kelemahan, di antaranya membutuhkan waktu belajar yang lebih lama dibandingkan dengan belajar menerima. Untuk mengurangi kelemahan tersebut maka diperlukan bantuan guru. Bantuan guru dapat dimulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan dengan memberikan informasi secara singkat. Pertanyaan dan informasi tersebut dapat dimuat dalam lembar kerja siswa (LKS) yang telah dipersiapkan oleh guru sebelum pembelajaran dimulai.