Membangun Budaya Baca di Lingkungan Madrasah

0
190
98300

Membaca merupakan suatu kegiatan untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi. Kepandaian membaca biasanya diperoleh dari sekolah. Kepandaian membaca ini merupakan suatu keterampilan yang sangat unik serta berperan penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan untuk alat komunikasi bagi kehidupan setiap manusia. Seseorang akan memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan yang baru dengan membaca. Setelah membaca, kita akan mendapat peningkatan daya pikiran dan mempertajam pandangan, serta menambah wawasan. Sehingga kegiatan membaca sangat diperlukan oleh siapapun yang menginginkan kemajuan dan peningkatan diri.

Menurut Mr.Hodgson terbitan tahun 1960 halaman 43-44, definisi membaca yaitu proses yang dilakukan oleh para pembaca agar mendapatkan pesan, yang akan disampaikan dari penulis dengan perantara media kata-kata maupun bahasa tulis. Apabila pesan tersurat dan tersirat dapat dipahami, maka proses dari membaca itu akan terlaksana secara baik. Selanjutnya, Soedarso berpendapat bahwa “Membaca adalah aktivitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah, meliputi orang harus menggunakan pengertian dan khayalan, mengamati, dan mengingat-ingat.

Ada beberapa alasan mengapa kita harus senantiasa membaca. Pertama, membaca sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan. Kedua, membaca merupakan sarana pergaulan. Ketiga, membaca merupakan salah satu sarana hiburan. Keempat, membaca dapat mendatangkan rezeki. Kelima, membaca dapat menjadi sarana mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa. Keenam, membaca sebagai sarana koreksi diri.

Program Budaya Baca menjadi salah satu materi pelatihan yang dikembangkan oleh USAID PRIORITAS. Mengapa Program Budaya Baca dianggap penting? Ketrampilan membaca sangat penting untuk kesuksesan pembelajaran di Madrasah dan dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak yang membacanya baik atau hobi membaca, biasanya akan mencapai hasil yang baik dalam mata pelajaran. Pengetahuan dan kemampuannya juga akan lebih luas dan terbuka dibandingkan dengan siswa lain yang kurang gemar membaca. Madrasah dapat membantu anak-anak untuk belajar menyukai buku dengan menerapkan “Program Membaca” dan menciptakan “Budaya Baca.”

Budaya membaca tidak terjadi dengan sendirinya, perlu proses pengenalan, pembiasaan, atau bila perlu sedikit paksaan agar menjadi sebuah kebiasaan. Pada tataran Madrasah, perlu dibentuk sebuah sistem pendidikan yang menimbulkan kegairahan belajar dan membaca. Perangkat inilah yang nantinya secara psikologis memaksa berbagai komponen Madrasah untuk memiliki kebiasaan membaca atau bahkan menulis sekalipun. Budaya baca adalah suatu kebiasaan yang telah menjadi bagian dari cara hidup seseorang atau masyarakat dalam memperoleh informasi dari media cetak atau tulis dengan menggunakan aksara tertentu.

Mengingat pentingnya kegiatan membaca dalam kehidupan sehari-hari, Presiden Soekarno dalam pertengahan tahun 1960-an menyerukan kepada segenap bangsa Indonesia untuk membiasakan diri membaca agar dapat menambah ilmu pengetahuan. Pentingnya kegiatan membaca dalam kehidupan sehari-hari juga diserukan kembali oleh Presiden Soeharto dalam penetapan Bulan Mei sebagai Bulan Buku Nasional  pada tgl 2 Mei 1975 di Pontianak,  penetapan Bulan September sebagai Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan pada tgl 14 September 1995 di Istana Negara, Jakarta, penetapan Gerakan Wakaf Buku Nasional pada tgl 7 Desember 1995 di Pusat Konvensi Hilton Jakarta,  dan peresmian Perhimpunan Masyarakat Gemar Membaca (PMGM) pada tgl 31 Mei 1996.

Hari Aksara, Hari Kunjung Perpustakaan, Bulan Membaca, dan Wakaf Buku tahun 1995,  Di samping itu diselenggarakan pula Kongres Perbukuan Nasional yang diselenggarakan tgl 29 s.d. 31 Mei 1995 di Jakarta. Pencanangan, peresmian, dan kongres itu dimaksudkan agar segenap bangsa Indonesia memberikan perhatian terhadap membaca sebagai suatu unsur dari budaya bangsa. Kemudian, Presiden Megawati Soekarnoputri menyerukan kepada segenap komponen bangsa Indonesia untuk mensukseskan Gerakan Membaca Nasional pada tahun 2003. Terakhir pada masa pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan Gerakan Pemberdayaan Perpustakaan di Masyarakat pada tanggal 12 Mei 2006.

Dari gambaran pentingnya membaca, ternyata minat baca masyarakat Indonesia sangatlah rendah, bahkan membaca tidak terlalu populer di kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS). Bahwa, masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%). Data lainnya, misalnya International Association for Evaluation of Educational (IEA). Tahun 1992, IAE melakukan riset tentang kemampuan membaca murid-murid Sekolah Dasar (SD) kelas IV 30 negara di dunia.

Kesimpulan dari riset tersebut menyebutkan bahwa Indonesia menempatkan urutan ke-29.  Ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum memiliki budaya membaca. Jadi tidak heran apabila sumber daya manusia di Indonesia juga rendah yang menyebabkan kurang majunya Indonesia dibanding negara tetangga.

UPAYA MENGEMBANGKAN BUDAYA BACA DI MADRASAH

Umumnya Madrasah-Madrasah di Kabupaten Pidie baik tingkat MI, MTs maupun MA belum menerapkan budaya baca di madrasah, hanya beberapa Madrasah saja yang sudah menerapkan budaya baca, itu pun belum maksimal dilaksanakan karena masih banyak kendala-kendala yang dihadapi madrasah terutama menyangkut dengan sarana dan fasilitas yang belum memadai.

Penulis merupakan salah seorang Fasilitator Daerah yang dilatih oleh USAID PRIORITAS untuk menerapkan budaya baca di sekolah-sekolah yang menjadi mitra USAID PRIRITAS. Dari hasil pendampingan yang penulis lakukan untuk 8 sekolah mitra (5 SMP dan 3 MTs), dari tiga MTs hanya satu yang sudah menerapkan budaya baca namun belum maksimal disebabkan berbagai kendala. Demikian juga untuk tingkat MI dan MA hanya sebagian kecil saja yang menerapkan budaya baca, pada hal budaya baca sangat penting bagi perkembangan kognitif anak.

Penulis akan mencoba berbagi pengalaman beberapa upaya yang sudah dilakukan untuk meningkatkan minat baca siswanya setelah bekerja sama dengan USAID PRIORITAS dan pernah melakukan pendapingan pada delapan Sekolah  mitra diantaranya :

  1. Keteladanan

Keteladanan merupakan sebuah perilaku seseorang yang bisa dijadikan sebagai contoh yang baik sehingga tindakan atau perilakunya itu diikuti oleh orang lain. Untuk mewujudkan hal ini harus diawali dari Kepala Madrasah, Guru dan Staf administrasi mau membaca disela-sela melaksanakan tugasnya di Madrasah dengan menyediakan waktu 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Sediakan Waktu Khusus Membaca Rutin Ini bisa dilakukan dengan menyediakan waktu khusus 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai sesuai dengan instruksi Mendikbud tahun 2015. Khusus untuk membaca rutin ini madrasah boleh menambah waktu 30 menit karena sebelumnya diawali dengan membaca Al-Qur’an terlebih dahulu.  Yang perlu diperhatikan dalam kegiatan ini tentunya keteladanan Kepala Madrasah, guru dan staff administrasi untuk ikut membaca bersama dengan siswa.

  1. Mata Pelajaran

Masukan budaya baca ini dalam daftar pelajaran (roster) untuk hari tertentu misalnya hari rabu dan sabtu jam pertama. Setiap siswa wajib membaca selama 1 jam pelajaran pertama dengan diawasi oleh guru yang mengajar pada jam tersebut. Dengan mengatur sudut baca pada setiap kelas, membuat rak buku di depan kelas masing-masing atau boleh juga buku di bawa dari perpustakaan dengan bantuan tenaga pustaka

  1. Libatkan Orang Tua Siswa

Alangkah baiknya sebelum pelaksanaan program ini sosialisasikan terlebih dahulu terhadap orang tua siswa agar mereka memahami dan ikut mendukung program ini dan ikut terlibat mendampingi anaknya di rumah untuk membaca. Di samping itu, orangtua juga perlu menetapkan jam wajib baca. Orang tua menyisihkan waktunya untuk membaca buku, atau sekadar menemani anak-anaknya membaca buku. Dengan begitu, anak-anak akan mendapatkan contoh teladan dari kedua orang tuanya secara langsung.

  1. Menata Perpustakaan

Buatlah perpustakaan menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan agar siswa betah diperpustakaan, pajang buku di tempat yang mudah terjangkau oleh siswa, buatlah kegiatan yang menantang dan menyenangkan bagi siswa di perpustakaan, permudah akses siswa ke perpustakaan dengan membuat perpustakaan berbasis IT kita bisa menggunakan program senayan, berikan reward kepada siswa yang paling sering berkunjung dan membaca di perpustakaan, jangan lupa minta tagihan resensi buku dari yang sudah dipinjam oleh siswa.

  1. Menata Lingkungan Madrasah

Manfaatkan ruang kosong atau taman Madrasah untuk dijadikan tempat menyimpan buku dan membaca yang nyaman bagi siswa, sediakan sudut baca ditiap kelas, manfaatkan mading kelas dan mading Madrasah untuk dijadikan sarana pembelajaran dan membaca siswa, manfaatkan produk pembelajaran siswa ditempel didinding kelas agar mudah dibaca oleh siswa.

  1. Pastikan Ketersediaan Buku Bacaan

Agar tidak membosankan pastikan buku-buku bacaan di perpustakaan selalu update dengan membeli buku bacaan baru dengan menggunakan dana BOS ataupun sumbangan dari siswa, Komite Madrasah ataupun alumni, bisa juga dengan melakukan pertukaran buku dengan perpustakaan Madrasah yang lain dan bekerjasama dengan perpustakaan daerah.

  1. Membuat Slogan-Slogan Membaca

Mewajibkan semua siswa, guru dan karyawan madrasah untuk membudayakan membaca, dan membuat slogan-slogan di kelas seperti tiada hari tanpa membaca, gunakan waktu luang untuk membaca dan buku adalah jendela ilmu pengetahuan. Dengan membuat kegiatan yang bersifat rekreatif dan edukatif diharapkan dapat membangun minat baca dikalangan siswa madrasah.

  1. Propaganda Membaca

Untuk melakukan propaganda kebiasaan membaca, Madrasah harus memulai dengan kebiasaan membaca bagi guru sebagai panutan bagi seluruh masyarakat sekolah. Jika kebiasaan membaca bagi guru sudah tumbuh baru propaganda ke masyarakat Madrasah lainnya dapat dilakukan. Setelah tumbuh kebiasaan membaca bagi guru, maka akan sangat mudah guru melakukan propaganda membaca di ranah siswa dan masyarakat Madrasah lainnya. Di ranah siswa, propaganda kebiasaan membaca dapat dilakukan dengan melakukan berbagai macam kompetisi atau lomba-lomba antar siswa dengan cabang kompetisi/lomba dari kegiatan yang berbasis pada aktivitas membaca. Di antara kompetisi/lomba tersebut antara lain lomba baca/menulis cerpen, puisi, sinopsis, cerita, karya ilmiah remaja, mengisi majalah dinding dan yang sejenisnya. Untuk mendukung suksesnya kebiasaan membaca, hadiah lomba berupa buku-buku terkini yang dapat menginspirasi siswa.

Dari beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menciptakan budaya baca di Madrasah dapat disimpulkan bahwa kebiasan-kebiasaan membaca yang telah tumbuh di lingkungan Madrasah selanjutnya perlu dikembangkan agar menjadi budaya. Jika kebiasaan membaca yang telah tumbuh tidak dirawat dan diperhatikan, maka kebiasaan itu akan hilang lagi dan kembali pada kebiasaan lama. Untuk itu, suasana pendukung perlu diciptakan agar budaya baca tersebut dapat tumbuh dan berkembang. Iklim pendukung budaya baca diantaranya dapat diciptakan dengan menyediakan sudut-sudut baca di sekitar Madrasah, dan menyediakan buku-buku bacaan terkini yang menarik dan menginspirasi.